Bagaimana Sikap Kita Terhadap Sesama?
Agustus 7, 2011 pada 6:26 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan KomentarKaitkata: Character Building, Sopan
Berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahauannya akan bertambah.
Dua orang sahabat sdg menghampiri kios koran & membeli beberapa koran serta majalah.
Penjual koran yg seharusnya gembira ternyata melayani dgn buruk, tidak sopan, & dgn muka cemberut.
Orang pertama jelas jengkel menerima layanan yg buruk seperti itu.
Yang mengherankan,
orang kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjual tsb.
Orang pertama bertanya kpd sahabatnya,
“Mengapa kamu bersikap sopan kpd penjual menyebalkan itu?”
Sahabatnya menjawab,
“Mengapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak?”
Yes !!
Itulah pointnya !!
Pesan Moral,
Jangan pernah biarkan orang lain menentukan cara kita bertindak, Seandainya orang tsb sedang melakukan hal yg buruk kpd kita.
Sayangnya, sering kali kita tidak berbuat demikian.
Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kpd kita.
Kalo mereka melakukan hal yg buruk,
kita akan membalasnya dgn hal yg lebih buruk lagi.
Kalo mereka tidak sopan,
kita akan lebih tidak sopan lagi.
Kalo orang lain pelit terhadap kita,
kita yg semula pemurah tiba-tiba jadinya sedemikian pelit kalo harus berurusan dgn org tsb.
Saat kita merenung tentang hal ini,
kita jadi malu sendiri.
Mengapa tindakan kita harus dipengaruhi oleh orang lain?
Mengapa untuk berbuat baik saja,
kita harus menunggu diperlakukan dgn baik oleh orang lain dulu?
Jaga suasana hati,
Jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak !!
Pilihlah tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yg tidak baik !!
Decision to act is in the hands of our own !!
Sumber: http://chikismart-home.blogspot.com/2011/07/bagaimana-sikap-kita-terhadap-sesama.html
Character Building 6 Agustus 2011
Agustus 7, 2011 pada 6:15 pm | Ditulis dalam SMA Kristen PETRA 1 | Tinggalkan KomentarKaitkata: Character Building, Sopan
BERSIKAP SOPAN
Ibu tahu bahwa ada sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi pada saat Slamet masuk ke dalam rumah. “Ada apa?” tanya ibu. “Apakah ada sesuatu yang tidak beres?”
“Ketika saya dan teman-teman tadi naik bis kota menuju rumah, kami semuanya duduk,” kata Slamet. “Waktu itu masih banyak tempat duduk yang kosong. Tetapi ketika semuanya sudah terisi, seorang wanita masuk dengan membawa banyak bungkusan. Lalu saya memberikan tempat duduk saya kepadanya. Tetapi dua orang dari teman-teman saya menertawakan saya. Kata mereka, tidak ada gunanya saya berbuat begitu. Kamu tidak akan pernah mendapat imbalan apa-apa atas perbuatanmu itu. Benarkah itu, Bu?”
“Itu tergantung dari macam imbalan apa yang kamu harapkan,” kata ibu. “Saya berharap wanita itu tidak memberimu uang atas sikapmu yang sopan itu. Sungguh tidak lucu jika kita bersikap sopan demi uang, bukan?”
Slamet menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Ia memang tidak ingin dibayar karena sikapnya yang sopan.
“Kalau begitu, upah lain apakah yang kita inginkan jika kita bersikap sopan kepada seseorang?” tanya ibu.
“Wanita itu mengucapkan terima kasih,” kata Slamet. “Ia berterima kasih atas sikap saya yang sopan. Ia bahkan tersenyum kepada saya beberapa kali selama dalam perjalanan pulang itu.”
“Itulah upah lain yang kamu dapatkan,” kata ibu. “Kejadian itu membuat kamu senang. Menurut kamu, apakah hal ini juga membuat orang lain merasa senang?”
“Saya kira Tuhan Yesus juga merasa senang,” kata Slamet.
“Jika wanita itu merasa senang, kamu merasa senang, dan Tuhan Yesus juga merasa senang, maka jangan khawatir jika satu atau dua orang dari teman-temanmu menertawakan kamu,” kata ibu.
Hendaklah kamu hidup dengan damai, ramah, rendah hati satu dengan yang lain (1 Petrus 3:8).
Sumber: http://www.sabda.org/binaanak/index.php?n=tampil&id=281
Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.