Diary yang Tak Pernah Selesai
Juni 20, 2008 pada 1:29 pm | Ditulis dalam Cerpen | Tinggalkan KomentarKaitkata: artikel, drama, Jepang, Mitreka, one litre of tears, Sinlui, teks, youtube
Di Mitreka (majalah SMAK St. Louis I) terbaru ( edisi 47, Juni 2008 ) ada 1 buah cerpen menarik yang dikarang oleh CRAZZ / X-E. Kepada Crazz, cerpen Anda bagus banget, gue baca Mitreka ini dari depan sampai belakang, baru terkesan pada saat membaca cerpen Anda, yang terletak di artikel paling akhir. Betul kata orang, save the best for last.
“Aku cuma mau bilang…,” Veny menghela nafas sejenak,”… terima kasih karena…,” genggaman tangan Veny makin erat.”…kamu sudah menjadi sahabat terbaikku…” Veny pun tersenyum dan air matanya mengalir seiring rohnya yang mengalir keluar dari tubuhnya. Chika pun menangis sambil terus menggenggam erat tangan Veny yang sudah tak bernyawa.
Isak tangis terdengar di setiap sudut rumah yang kecil itu. Banyak orang berbondong-bondong masuk ke dalam dengan pakaian hitam-hitam. Terduduklah seorang ibu yang tak berhenti menangis bersama dengan seorang anak perempuan yang mencoba menenangkan ibu itu meski ia sendiri tak bisa menahan tangis. Mereka berdua telah kehilangan seseorang yang paling mereka sayangi. Veny, telah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Ia telah kalah dengan penyakitnya yang telah parah.
Semua orang yang hadir seakan terkurung dalam duka yang amat mendalam. Ayah Veny terdiam di salah satu sudut rumahnya. Dia memegang sebuah buku berwarna merah muda. Setelah membaca buku itu, dia pun menatap Chika yang masih duduk di samping istrinya. Dia pun bangkit dan menghampiri Chika.
“Chika,” ayah Veny menepuk pundak Chika. Chika langsung menoleh dan mengusap air matanya. Dia mencoba tersenyum di hadapan ayah Veny.
“Ada apa, om?” tanya Chika lembut.
“Om cuma mau kasih ini ke kamu,” kata ayah Veny sambil menyodorkan buku yang telah dibacanya dari tadi. Chika melihat buku itu dan bertanya, “Apa ini, om?”
“Entahlah, mungkin buku diary Veny. Kamu ambil saja, ya! Kamu baca juga nggak apa-apa.”
“Emangnya kenapa, om?” Chika bertanya lagi.
“Pokoknya ini buat kamu. Kamu simpan baik-baik, ya! Jangan sampai hilang!” kata ayah Veny dan pergi.
“Tap, tapi…, om…!” Chika mencoba memanggil ayah Veny lagi, tapi dia telah berjalan keluar dari rumahnya. Chika menatap buku itu heran.
Sesampainya di tempat kos-kosan, Chika segera masuk ke kamarnya dan melempar tasnya. Chika tak sabar untuk segera membaca buku diary Veny. Chika membuka halaman pertama buku itu.
3 Juni 2006
Wah, akhirnya aku bisa membeli buku diary. Senang sekali, lho! Kenalkan, namaku Veny. Mulai hari ini kamu jadi sahabatku, ya, diary! Kamu tahu, nggak? Aku menabung berbulan-bulan, lho untuk mendapatkan kamu. He…he…he…
Chika tersenyum dan membuka beberapa halaman berikutnya. Dia pun membaca isi halaman itu.
17 Juli 2006
Akhirnya, aku masuk sekolah lagi. Hari ini aku sudah mendapat 4 teman dekat. Namanya Siska, Chika, Sherile dan Merry. Mereka baik banget sama aku. Tadi kita ke kantin bareng, bercanda bareng, wah… seru deh pokoknya. Mereka juga enak diajak mengobrol. Gimana kalau mereka kujadikan sahabatku? Kamu setuju nggak, diary? Emang agak kecepetan sih, tapi nggak apa-apa, kan? Kamu pasti setuju, kan diary? Pasti dong!
Chika tersenyum lagi dan membuka halaman tengah dari buku itu. Lagi-lagi ia penasaran dengan isi halaman itu.
15 Oktober 2006
Diary, nanti giliran mereka yang datang ke rumahku. Mereka semua mau ke rumahku untuk kerja kelompok. Semoga mereka ngga mengeluh karena rumahku nggak sebesar rumah mereka. Rumahnya Sherile besar banget. Baru minggu lalu aku ke sana. Aku maklum sih, karena ayahnya punya perusahaan yang gede. Apalagi rumah Chika, aku paling kagum sama rumahnya. Besar, ada tamannya, sejuk, asyik banget! Kemarin waktu liburan tengah semester, aku, Sherile dan Siska pergi ke rumah Chika di Jakarta. Orang tuanya juga ramah banget. Sayang, Merry ngga bisa ikut. Doain aku, ya diary. Semoga mereka nggak merasa risih di rumahku yang nggak terlalu besar ini. Eh, mereka dateng! Kamu denger kan, mereka panggil-panggil aku? Aku keluar dulu ya, diary! Ngobrolnya kita lanjutin besok, ya! Daaa……
16 Oktober 2006
Diary, aku heran sama sikap Sherile hari ini. Tadi dia kayak menghindar sama aku. Dia juga nggak mau ke kantin bareng-bareng lagi padahal biasanya dia yang paksa aku buat temenin dia ke kantin. Tapi waktu Chika yang ajak dia ke kantin, Sherile koq ngga nolak? Dia juga nggak mau sekelompok sama aku. Sherile kenapa, sih? Emangnya, aku salah apa sama dia? Apa aku harus kehilangan satu sahabatku sekarang? Ya, sudahlah kalau Sherile memang nggak mau lagi berteman sama aku.
Chika langsung teringat pada kata-kata Sherile waktu itu. “Apa kamu nggak merasa rugi punya temen miskin kayak Veny? Kalau aku sih, merasa banget. Bisa-bisa aku ikut miskin kayak dia!”
18 Oktober 2006
Hari ini Merry aneh banget. Merry juga mulai ngejauhin aku deh, kayaknya. Baru 2 hari yang lalu aku kehilangan 1 sahabatku, sekarang satu lagi. Merry juga mulai sering bisik-bisik sama Sherile sambil ngeliatin aku. Apa mereka berdua marah sama aku, ya? Diary, sampai sekarang aku masih bingung. Kenapa mereka berdua ngejauhin aku tanpa alasan yang jelas? Aku ada salah apa sih, sama mereka?
Teringat pula Chika akan kata-kata terakhir Merry padanya, “Kamu ini bodoh banget kalau mau berteman dengan orang yang nggak bisa diandalkan kayak dia. Lebih baik kamu tinggalin dia atau kamu akan ikut sial kayak dia!”
Chika tersadar dari lamunannya dan membuka beberapa halaman selanjutnya. Vhika melihat ada satu halaman yang tampak seperti pernah basah. Dia pun membacanya.
4 Februari 2007
Diary, aku nggak tahu harus gimana sekarang. Aku tadi pergi ke rumah sakit karena akhir-akhir ini aku sering pusing tanpa sebab. Ternyata, aku divonis mengidap kanker otak stadium 4. Aku harus gimana, diary? Apa aku harus cerita sama Chika? atau sama Siska? Apa yang akan mereka katakan? Aku nggak mau mereka menjauh karena aku punya penyakit yang serius kayak gini. Mereka pasti langsung membuang aku kayak sampah seperti yang pernah Sherile dan Merry lakukan sama aku. Nggak! Aku nggak akan cerita sama mereka.
6 Februari 2007
Sekarang aku nginep di rumah sakit, diary. Kata Chika, aku tadi pingsan di sekolah waktu pelajaran OR. Chika sama Siska yang mengantar aku sampai di sini. Mereka baik banget sama aku. Apa mereka sudah tau kalau aku sakit parah? Okelah, besok aku akan cerita sama mereka tentang penyakitku ini. Tapi aku masih ragu, diary.
7 Februari 2007
Aku lega banget karena aku sudah cerita sama mereka tentang penyakitku. Chika tadi sempat marah karena aku baru cerita hari ini. Nggak apa-apalah. Itu tandanya dia masih peduli sama aku.
Mata Chika mulai berkaca-kaca ketika membaca kalimat terakhir pada halaman itu. Chika segera membaca beberapa halaman berikutnya.
13 Maret 2007
Kayaknya, apa yang aku takutin terjadi, diary. Siska udah nggak pernah datang untuk jenguk aku di rumah sakit. Kata Chika, Siska sibuk dengan tugas-tugasnya. Bukannya aku pingin dijenguk, tapi aku merasa dia tambah cuek sama aku. Aku telpon, nggak pernah diangkat. Aku SMS, nggak pernah dibales. Seakan-akan dia udah nggak mau lagi deket sama aku. Aku emang nggak berguna. Aku nggak bisa nyenengin temen-temenku. Apa aku nggak pantes untuk dapet sahabat? Sebentar lagi Chika pasti juga nggak akan sudi bersahabat dengan aku. Dia pasti lebih mentingin anak yang lain daripada aku. Dia nggak mungkin memikirkan aku yang sebentar lagi mati. Aku udah nggak pantes punya teman, apalagi sahabat!
Mata Chika semakin panas dan air mata pun mengalir di pipinya. Chika menutup buku itu dan berkata dalam hati, ‘Kenapa kamu berpikir kayak gitu, Ven?’ Dia mengusap air matanya lalu mengambil buku diary itu lagi. Dia membukanya tepat pada halaman terakhir. Pada halaman itu, terdapat banyak bercak darah dan tulisannya pun tak beraturan.
29 Mei 2007
Diary, sampai hari ini Chika masih mau menjenguk aku. Dia masih mau memikirkan aku. Dia masih mau setia menjadi sahabatku walaupun dia tahu umurku udah nggak lama lagi. Dia sama setianya sama kamu yang mau menjadi teman ceritaku setiap hari. Dia juga masih mau memberiku semangat hidup. Aku sayang sekali sama Chika. Dia masih mau menemaniku di saat-saat terakhirku. Kalau aku masih punya waktu, aku pasti akan bilang sama dia, terima kasih karena
Tulisannya terputus. Dia pun langsung teringat kata-kata terakhir Veny padanya yang langsung membuatnya menangis sejadi-jadinya, “Aku cuma mau bilang terima kasih karena kamu sudah menjadi sahabat terbaikku…”
THE END (Thanks to CRAZZ)
Gue jadi teringat film drama Jepang, One litre of tears. Cerita yang begitu menyentuh hati. Malah gue udah download di youtube.com semua episodenya. Tanpa dubbing dan teks-nya bahasa Inggris. Belum nonton? Film ini layak diliat, beneran!
Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

