Menyembuhkan Orang Lain dengan Mendengarkan
Oktober 7, 2011 pada 8:45 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan KomentarMendengarkan, bukanlah pekerjaan sulit. Kita sering melakukannya di manapun, baik saat bersama saudara, anak, suami/istri, teman, orangtua, bahkan orang yang baru saja kita kenal. Tapi tahukah Anda bahwa mendengarkan, jika dilakukan dengan benar, ternyata dapat menyembuhkan suatu penyakit.
Mau tahu rahasia kesuksesan seorang psikolog? Simaklah ilustrasi ini. Seorang klien (bahasa kedokterannya pasien) dengan wajah tegang datang ke ruang praktik seorang psikolog, lalu duduk dengan resah sambil meremas-remas tangan. Selama beberapa menit berlangsung tanya-jawab ringan, seperti ”Langsung dari rumah?”, ”Lama menunggu?”, ”Bagaimana di jalan, lancar?”.
Dan, setelah klien tampak agak tenang, psikolog bertanya, ”Apa yang bisa saya bantu?” Klien pun mulai mengungkapkan masalahnya, mula-mula agak tersendat-sendat, tetapi kemudian makin lancar, dan tanpa terasa satu jam sudah ia mengungkapkan unek-uneknya.
Apa yang dilakukan psikolog? Ia hanya duduk, menatap orang yang sedang berbicara dengan tubuh agak condong ke depan, serta menampilkan dirinya sebagai pribadi yang tenang, ramah, dan santai. Sekali-sekali ia berkomentar ”Oh”, ”Kemudian?”, ”Lalu?”, ”Maksudnya?”, atau ”Bagaimana perasaan Anda?” yang diucapkan dengan penuh perhatian.
Pada akhir pertemuan, psikolog hanya meringkas apa yang diungkapkan klien dan menetapkan waktu untuk pertemuan berikutnya. Lalu, klien dengan wajah berseri, menjabat tangan sambil mengatakan, ”Terima kasih, saya merasa plong” dan tak lupa pula…. membayar sang psikolog. Nasihat manjur apa yang diberikan sehingga terjadi perubahan pada diri klien yang semula tegang menjadi berseri wajahnya, menjadi plong? Sama sekali tak ada nasihat! Yang terjadi adalah psikolog melakukan active listening (mendengarkan secara aktif).
Active listening
Mendengar (hearing) berbeda dengan menyimak (listening), walaupun keduanya sama-sama menggunakan telinga. Contohnya, kalau kita sedang makan malam bersama keluarga di sebuah restoran dan ada seorang penyanyi yang sedang melantunkan sebuah lagu diiringi musik jazz di panggung, apakah kita mendengar nyanyian dan musik itu? Tentu saja mendengar, tetapi karena sedang bercakap-cakap sambil menikmati makanan lezat, kita tidak dapat menyimak alunan lagu dan musiknya.
Jadi, listening adalah mendengar dengan penuh perhatian dan berusaha turut menghayati apa yang didengarnya. Bagaimana dengan active listening yang biasa dilakukan dalam konsultasi psikologi seperti contoh tadi? Tentu saja intensitasnya harus lebih tinggi karena active listening adalah kesediaan dan kemampuan serta keterampilan untuk mendengarkan orang lain dengan sengaja dan penuh perhatian, sehingga maksud si pembicara dapat dipahami, dan perasaan-perasaannya dapat diketahui dan dihayati.
Menerapkan prinsip SOLER
Active listening terungkap juga secara non verbal, antara lain lewat posisi tubuh yang menunjukkan perhatian seperti dirumuskan dalam SOLER, yaitu:
- S: Face the other person squarely (hadapi lawan bicara dengan tatap muka, tidak menyamping, apalagi membelakanginya)
- O: Keep an open posture (tangan terbuka, tidak terlipat di dada, masuk ke kantong, atau bertolak pinggang).
- L: Lean towards the other person (condongkan tubuh sedikit, kira-kira 15 derajat ke arah lawan bicara Anda)
- E: Keep eye contact (tatap mata lawan bicara, tidak langsung pada bola matanya, tetapi di dahi, sedikit di atas alis. Dan, bukan terus-menerus dipelototi).
- R: Be relaxed, please. (santai, ramah, dan dengan wajah yang jernih. Jangan mendengarkan orang lain sambil bekerja atau menelepon). Apakah boleh tersenyum? Tentu saja boleh ikut tersenyum, asal di saat orang itu merasa lucu dengan ceritanya sendiri. Jangan tersenyum saat ia menceritakan kesedihannya.
Menerapkan prinsip SOLER dengan baik menandakan kita menaruh perhatian pada lawan bicara, sehingga ia merasa bebas untuk mengungkapkan keluhan-keluhannya. Dan begitu keluhan-keluhan terungkap, hasilnya adalah kelegaan.
Sumber: http://sweetspearls.com/health/menyembuhkan-orang-lain-dengan-mendengarkan/
16 Kesalahan
Oktober 7, 2011 pada 8:44 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan KomentarKebanyakan orang lebih senang berbicara dan menonjolkan siapa dirinya ketimbang mendengarkan orang lain. Kemampuan mendengarkan memang tak dimiliki semua orang, tetapi bukan berarti tidak bisa dipelajari, kan?
Sebelumnya, kenali lebih dahulu tipikal orang yang tidak suka mendengarkan, terutama jika Anda sedang berkonflik. Saat itu Anda menjadi tidak peduli bagaimana perasaan orang lain dankeukeuh bahwa orang lain yang salah. Karakter yang muncul dalam kondisi seperti ini di antaranya:
* Merasa paling benar. Cenderung keras kepala dan menyatakan Anda paling benar.
* Menyalahkan orang lain. Menyatakan secara langsung maupun tersirat bahwa masalah yang sedang dihadapi adalah kesalahan orang lain.
* Membela diri. Dengan argumentasi kuat, Anda menolak mengakui kelemahan dan kekurangan yang ada pada diri Anda.
* Memposisikan diri sebagai “martir”. Anda mengklaim diri sendiri sebagai korban atas tirani orang lain dalam menghadapi suatu masalah.
* Merendahkan. Anda berbicara dominan dan membuat orang lain merasa inferior atau bahkan dipermalukan.
* Pelabelan. Anda menunjuk orang lain atau menyebut namanya ketika terlibat dalam perselisihan.
* Sarkastis. Sikap, kata-kata, bahkan nada suara Anda meremehkan atau merendahkan orang lain.
* Serangan balik. Setiap kritik tentang Anda, Anda balas kembali dengan kritikan.
* Mencari kambing hitam. Anda mengisyaratkan orang lain lah yang bersalah dengan ketidakmampuannya.
* Pengalihan. Anda seringkali mengalihkan pembicaraan seenak hati.
* Menyalahkan diri sendiri. Anda bertingkah seakan Anda telah berbuat sesuatu yang buruk untuk menghindari kritik.
* Tidak ada harapan. Anda mengklaim bahwa Anda telah melakukan segala cara namun tak ada satu pun yang berhasil.
* Menyangkal. Anda menyangkal keterlibatan Anda dalam masalah, dan meyakinkan bahwa Anda tidak kesal terhadapnya.
* Gemar “menolong”. Anda lebih cenderung memberikan saran dalam rangka membantu namun tak pernah mendengarkan kebutuhan orang lain.
* Agresi yang pasif. Kemarahan Anda ditandai dengan hanya diam, mencibir, atau bahkan secara agresif menggebrak pintu.
* Membaca pikiran. Anda berharap orang lain untuk mengerti perasaan Anda tanpa Anda minta.
Sudah mengenali daftar karakter ini? Apakah ada dalam diri Anda? Jika dominasi karakter ini menguasai diri Anda, ini saatnya manfaatkan indera pendengaran Anda dengan semestinya, yakni mendengarkan orang lain.
Diperlukan empati, keterbukaan, kasih sayang, dan rasa menghargai untuk membangun komunikasi yang baik terhadap orang lain. Dengan karakter ini Anda mulai bisa mengubah kebiasan dominasi pembicaraan dengan mendengarkan.
Empati artinya Anda mendengar dan berusaha melihat perspektif lain dari kacamata lawan bicara Anda. Dengan melatih kemampuan ini Anda akan menemukan kebenaran dari apa yang orang lain katakan tentang Anda. Bahkan kritik orang lain terhadap Anda yang terdengar tidak adil, atau pandangan yang bertolak belakang dengan Anda, akan lebih mudah diterima.
Keterbukaan mengandung makna Anda mampu berekspresi dengan perasaan Anda secara terbuka dan leluasa. Anda bisa dengan mudah mengatakan “Saya merasa tidak nyaman”. Dengan mengatakan perasaan Anda yang sebenarnya secara lugas, orang lain tidak akan merasa ditekan. Sebaliknya, komunikasi negatif membuat Anda menyimpan perasaan negatif atau bahkan memunculkan sikap agresif yang membuat orang lain merasa tertekan.
Menghargai dan memperlakukan orang lain dengan kebaikan, dan kepedulian yang jujur memberikan kesan positif dan membangun komunikasi yang baik. Sebaliknya, menempatkan orang dalam kondisi permusuhan, persaingan, bahkan merendahkan harga dirinya, membuat komunikasi menjadi buruk.
Sumber: http://female.kompas.com/read/2010/02/02/15290541/Mendengarkan.Orang.Lain.Caranya.
Character Building 8 Oktober 2011
Oktober 7, 2011 pada 8:28 pm | Ditulis dalam SMA Kristen PETRA 1 | Tinggalkan KomentarKaitkata: Character Building, Mendengarkan orang lain
Tujuh Manfaat Mendengarkan Orang Lain
Mereka yang dianggap ahli dalam seni berkomunikasi awalnya adalah pendengar yang baik. Para pembicara dan pemimpin hebat yang berpengaruh, umumnya adalah orang-orang yang senantiasa membuka telinga mereka untuk mendengarkan orang lain bagi diri mereka sendiri. Pengusaha, manajer, karyawan, penjual, dan bahkan customer service yang sukses adalah mereka yang lebih banyak mendengar dan sedikit bicara lalu bertindak, daripada banyak bicara, sedikit mendengar lalu bertindak.
Mungkin itu sebabnya Tuhan memberi kita dua telinga tapi hanya satu mulut. Supaya kita lebih banyak mendengar, daripada hanya berbicara. Itu membuktikan bahwa manfaat mendengarkan sangat besar bagi kehidupan kita. Apa saja manfaat mendengarkan bagi kehidupan kita?
1. Menjauhkan Anda dari kesulitan.
Dengan menjadi pendengar yang baik, seseorang cenderung lebih teliti memperhatikan petunjuk, saran, peringatan sehingga terhindar dari kesulitan atau masalah akibat kelalaian yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.